Cegah Stunting dari Hulu, Kubu Raya Siapkan 4 Desa Jadi Model Pembinaan Remaja
kalbar24.com – Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menyiapkan empat desa sebagai model pembinaan remaja Generasi Berencana (GenRe). Program ini menjadi bagian dari upaya mencegah stunting sejak dari hulu dengan memperkuat pembinaan dan kesehatan remaja.
Empat desa yang dipilih yakni Desa Kuala Mandor B, Sungai Enau, Lingga, dan Sungai Ambawang.
Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto mengatakan, keempat desa tersebut diharapkan dapat menjadi contoh penerapan program pembinaan remaja di tingkat desa.
“Dari hasil pendalaman dan paparan narasumber, nantinya akan dibawa ke desa-desa. Kami atas nama Pemerintah Kabupaten Kubu Raya sangat mendukung kegiatan ini karena empat desa ini diharapkan menjadi contoh,” kata Sukiryanto, Rabu (7/10), usai membuka Diseminasi Hasil Analisis Situasi Remaja dan Rapat Koordinasi Tim Pendamping Desa Model di Gedung Kepong Bakul, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kubu Raya.
Sukiryanto menjelaskan, kegiatan tersebut tidak berhenti pada penyampaian hasil analisis situasi remaja. Para peserta juga mendapat penguatan kapasitas agar mampu menerapkan hasil pembelajaran di wilayah masing-masing.
Pembinaan tersebut diharapkan dapat mendorong remaja menjalankan peran positif sekaligus meningkatkan kemampuan kader dan petugas dalam menangani persoalan remaja serta kesehatan masyarakat.
Menurut Sukiryanto, keterlibatan kader di tingkat desa menjadi penting dalam pencegahan stunting. Penanganan stunting, kata dia, perlu dilakukan sejak jauh sebelum seseorang memasuki fase kehamilan.
“Tim-tim yang mengikuti pelatihan hari ini akan mendalami bagaimana cara menghadapi dan menanggulangi persoalan, termasuk peningkatan stunting yang terjadi,” ujarnya.
Ia menyebut persoalan stunting masih menjadi perhatian di Kubu Raya. Karena itu, penanganannya membutuhkan keterlibatan bersama dan tidak hanya dilakukan ketika anak sudah mengalami stunting.
“Ini tugas kita bersama,” katanya.
Upaya pembinaan juga menghadapi tantangan geografis Kubu Raya yang memiliki wilayah luas dengan sejumlah kawasan kepulauan dan akses yang berbeda. Batu Ampar, Terentang, dan Kubu menjadi beberapa wilayah yang membutuhkan pendekatan sesuai kondisi masing-masing.
“Dengan pelatihan-pelatihan ini saya yakin akan memberikan gambaran kepada petugas untuk turun ke masyarakat,” ujarnya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3KB) Kubu Raya Dyah Tut Wuri Handayani mengatakan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari pelatihan yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Pelatihan melibatkan fasilitator desa dan kader untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam memahami kondisi remaja di wilayah masing-masing.
“Ini sosialisasi terkait penilaian kondisi remaja di wilayah desa model,” kata Dyah.
Ia menjelaskan, pemetaan dan analisis situasi remaja diperlukan untuk mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi remaja di tingkat desa. Hasil analisis kemudian digunakan sebagai dasar menentukan bentuk intervensi yang sesuai.
Dyah menambahkan, pembinaan remaja berkaitan erat dengan upaya pencegahan stunting. Menurutnya, intervensi perlu dilakukan sejak dari hulu, termasuk memastikan kesehatan remaja putri sebagai calon ibu.
“Salah satunya dari remaja putri, terutama pada usia sehat dan tidak mengalami kekurangan energi kronis,” ujarnya.
Hasil analisis situasi remaja GenRe selanjutnya diharapkan menjadi dasar bagi kader dan pemerintah desa dalam menyusun pembinaan yang lebih tepat sasaran.
Empat desa tersebut akan menjadi model awal penerapan hasil analisis situasi remaja di tingkat desa. Praktik dan pengalaman yang diperoleh nantinya dapat menjadi rujukan bagi pengembangan program serupa di wilayah lainnya.
