Kemarau Panjang Akibat El Nino Ganggu Musim Tanam Padi di Kalbar
kalbar24.com - Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang berdampak terhadap sektor pertanian di Kalimantan Barat (Kalbar). Kondisi tersebut menyebabkan musim tanam padi terlambat dan berpotensi membuat petani kehilangan satu musim tanam pada 2026.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar Herti Herawati mengatakan, musim tanam yang seharusnya berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026 belum dapat dilakukan karena memasuki musim kering.
"Seharusnya Juli-Agustus 2026 sudah mulai tanam, tetapi Agustus justru mulai musim kering. Sampai sekarang belum bisa mulai tanam," ujar Herti di Pontianak, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, kekeringan membuat sejumlah lahan pertanian belum dapat ditanami karena keterbatasan ketersediaan air. Kondisi sumber air di sejumlah wilayah juga menjadi pertimbangan pemerintah dalam menyalurkan bantuan kepada petani.
Herti mengatakan, pihaknya berharap kegiatan tanam dapat kembali dilakukan menjelang akhir tahun apabila kondisi cuaca dan ketersediaan air mulai membaik.
Di tengah kondisi tersebut, produksi padi Kalbar pada Agustus 2026 tercatat meningkat sekitar 3.212 ton gabah kering giling (GKG) dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Namun secara kumulatif, produksi padi sepanjang Januari hingga Agustus 2026 masih mengalami penurunan sekitar 57.490 ton GKG dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain faktor cuaca, sektor pertanian Kalbar juga menghadapi tantangan berupa berkurangnya luas lahan baku sawah. Sejumlah daerah belum memenuhi target luas lahan baku sawah minimal 87 persen dari Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Untuk meningkatkan produktivitas pertanian di tengah keterbatasan lahan, Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah menerapkan sistem pertanian modern melalui Modern Agriculture Advanced System (MAAS).
Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan produktivitas padi dari rata-rata sekitar 3,5 ton menjadi hingga delapan ton per hektare.
"Untuk Kalbar dalam program itu ditargetkan 15 ribu hektare," katanya.
Saat ini pemerintah mulai melakukan konsolidasi dengan pemerintah daerah Kabupaten Sanggau, Kubu Raya, dan Landak untuk pelaksanaan program tersebut, termasuk dukungan benih dengan padat bibit guna meningkatkan produksi.
Herti menambahkan, hingga kini belum terdapat laporan kerugian masyarakat secara langsung akibat El Nino. Masyarakat lebih banyak meminta agar penyaluran bantuan ditunda karena kondisi lahan dan sumber air belum mendukung kegiatan pertanian.
