Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Teknologi
Teknologi

Indofarma Gandeng ITB Kembangkan Riset Tanaman Obat Berbasis Teknologi

✍️ Dewi Lestari 🕒 28 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
PT Indofarma (Persero) Tbk mendorong pemanfaatan kekayaan biodiversitas Indonesia melalui hilirisasi riset tanaman obat menjadi produk farmasi berbasis alam yang memiliki nilai tambah dan daya saing.
PT Indofarma (Persero) Tbk mendorong pemanfaatan kekayaan biodiversitas Indonesia melalui hilirisasi riset tanaman obat menjadi produk farmasi berbasis alam yang memiliki nilai tambah dan daya saing. Foto: istimewa

kalbar24.com – PT Indofarma (Persero) Tbk mendorong pemanfaatan kekayaan biodiversitas Indonesia melalui hilirisasi riset tanaman obat menjadi produk farmasi berbasis alam yang memiliki nilai tambah dan daya saing.

Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan teknologi pengolahan serta kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan mitra industri. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan sumber daya hayati dalam negeri sekaligus membuka peluang ekonomi di sektor farmasi.

Direktur Utama Indofarma, Sahat Sihombing, mengatakan Indonesia memiliki kekayaan tanaman obat yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku berbagai produk kesehatan. Namun, pemanfaatannya perlu didukung penelitian ilmiah dan inovasi teknologi agar dapat memenuhi standar industri.

“Indonesia dianugerahi kekayaan biodiversitas yang luar biasa, termasuk berbagai tanaman yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku obat berbasis alam. Potensi ini perlu kita eksplorasi melalui riset ilmiah, inovasi teknologi, dan kolaborasi erat antara perguruan tinggi, institusi penelitian, dan industri,” kata Sahat dalam keterangan tertulis, Rabu (28/10/2026).

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF), melalui diskusi panel bertajuk Unlocking Nature’s Code: Transforming Indonesian Biodiversity into High-Value Phytopharmaca through Technology Innovation.

Forum itu membahas peluang mengembangkan kekayaan hayati Indonesia menjadi bahan baku dan produk farmasi berbasis alam yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Teknologi dan Riset Jadi Kunci Pengembangan

Hilirisasi tanaman obat tidak cukup hanya dengan menemukan jenis tumbuhan yang berpotensi untuk kesehatan. Hasil penelitian juga harus melalui tahapan pengembangan dan pembuktian agar produk yang dihasilkan memenuhi persyaratan keamanan, mutu, khasiat, serta regulasi.

Sahat menegaskan, proses tersebut menjadi tantangan penting dalam membawa hasil riset dari lingkungan penelitian menuju pemanfaatan industri.

“Tantangannya bukan hanya menemukan potensi bahan alam, tetapi juga memastikan hasil riset dapat dihilirisasi menjadi produk yang aman, bermutu, berkhasiat, memenuhi ketentuan regulasi, dan memiliki nilai ekonomi bagi Indonesia,” ujarnya.

Sejumlah pendekatan teknologi, termasuk pemurnian atau purifikasi dan nanoteknologi, dapat dimanfaatkan dalam pengembangan bahan alam. Teknologi tersebut berpotensi membantu proses pengolahan dan pengembangan bahan aktif, dengan efektivitasnya tetap bergantung pada karakteristik bahan serta hasil penelitian.

Pengembangan tanaman obat juga membuka peluang peningkatan produk dari jamu menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT) hingga fitofarmaka. Namun, setiap kategori memiliki persyaratan pembuktian ilmiah dan ketentuan registrasi yang berbeda.

Indofarma Siapkan Kapasitas Pengolahan Bahan Alam

Untuk mendukung proses hilirisasi, Indofarma memiliki kapasitas ekstraksi bahan alam serta fasilitas produksi obat tradisional yang telah tersertifikasi Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).

Fasilitas tersebut dapat menjadi modal bagi perusahaan dalam mendukung pengolahan bahan alam, mulai dari ekstraksi hingga pengembangan produk jadi berupa jamu.

Sementara itu, pengembangan menjadi OHT maupun fitofarmaka memerlukan tahapan penelitian, pembuktian, pengembangan produk, dan registrasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Kesiapan fasilitas industri diharapkan dapat membantu menjembatani hasil penelitian dengan proses produksi. Dengan begitu, potensi tanaman obat tidak berhenti pada temuan ilmiah, tetapi berpeluang dikembangkan menjadi produk yang memenuhi standar mutu dan kebutuhan pasar.

Indofarma Jajaki Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi dan Industri

Dalam rangkaian DTIIF, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara PT Danantara Development Management Fund, PT Indofarma (Persero) Tbk, Institut Teknologi Bandung, serta PT EBM Saintifik dan Teknologi.

Kesepakatan tersebut berkaitan dengan penjajakan kerja sama hilirisasi riset tanaman obat yang dinilai memiliki potensi ekonomi tinggi.

Kolaborasi itu diharapkan menjadi landasan untuk mengembangkan hasil penelitian, mengevaluasi potensi teknologi pengolahan, serta menjajaki peluang pendanaan dan investasi.

Kerja sama juga diarahkan untuk mendorong pengembangan produk berbasis alam hingga tahap komersialisasi sesuai kapasitas dan kewenangan masing-masing pihak.

Melalui sinergi riset, teknologi, dan industri, Indofarma berharap kekayaan tanaman obat Indonesia dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. Upaya tersebut sekaligus membuka peluang bagi produk farmasi berbasis alam nasional untuk meningkatkan nilai tambah dan memperkuat daya saing di pasar.

DL
Dewi LestariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update