Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

BMKG Catat 886 Titik Panas di Kalbar, Ketapang Dominasi Hotspot

✍️ Dewi Lestari 🕒 08 Oct 2026 👁️ 12x dibaca
Petugas Manggala Agni Kementerian Kehutanan melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kepulan asap,
Petugas Manggala Agni Kementerian Kehutanan melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kepulan asap, Foto: istimewa

kalbar24.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat masih perlu diwaspadai. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 886 titik panas atau hotspot tersebar di sejumlah wilayah Kalbar pada Selasa (6/10/2026).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 62 titik terdeteksi memiliki tingkat kepercayaan tinggi. Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah hotspot kategori tinggi terbanyak.

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan, dari 62 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi tersebut, sebanyak 47 titik berada di Kabupaten Ketapang.

"Ada 62 titik panas, yang paling banyak di Kabupaten Ketapang sebanyak 47 titik."

Pernyataan tersebut disampaikan Ria Norsan di Pontianak, Rabu (7/10/2026), setelah memantau perkembangan sebaran hotspot melalui Data Analytics Room di Kantor Gubernur Kalimantan Barat.

Selain Ketapang, hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi juga terdeteksi di sejumlah daerah lainnya. Sintang dan Sekadau masing-masing tercatat lima titik, Kayong Utara tiga titik, serta Kapuas Hulu dua titik.

Sebaran hotspot tersebut menjadi perhatian karena sebagian wilayah Kalimantan Barat masih menghadapi kondisi cuaca kering yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran lahan.

Meski demikian, keberadaan hotspot yang terdeteksi satelit tidak secara otomatis menunjukkan adanya kebakaran. Data tersebut merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang perlu diverifikasi melalui pengecekan di lapangan.

Asap Berpotensi Bergerak ke Pontianak

Selain jumlah titik panas, pemerintah daerah juga memantau arah pergerakan angin karena kondisi tersebut dapat memengaruhi penyebaran asap dari wilayah yang mengalami kebakaran.

Ria Norsan menyebut pergerakan angin dari Kalimantan Tengah menuju Kalimantan Barat berpotensi membawa asap melewati wilayah Ketapang, kemudian bergerak ke Kubu Raya hingga Kota Pontianak.

Namun, arah angin tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan sumber kabut asap. Pemantauan titik kebakaran, kondisi atmosfer, serta kualitas udara tetap diperlukan untuk memastikan sumber dan pergerakan asap.

Kabut asap menjadi perhatian karena dapat mengurangi jarak pandang sekaligus meningkatkan paparan polusi udara bagi masyarakat.

Salah satu parameter yang perlu diperhatikan adalah partikulat PM2,5. Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan ketika terhirup.

Kelompok masyarakat seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta mereka yang memiliki gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara mengalami penurunan.

Dengan masih tingginya jumlah hotspot yang terpantau, pemantauan dan penanganan di lapangan menjadi penting untuk mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

DL
Dewi LestariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update