AI Bukan Pengganti Pekerja, Shipper Pangkas Proses Penagihan dari 21 Hari Jadi 5 Hari
kalbar24.com – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di lingkungan perusahaan dinilai tidak selalu berujung pada pengurangan tenaga kerja. Sebaliknya, teknologi tersebut dapat membantu meningkatkan produktivitas dengan mengambil alih pekerjaan rutin sehingga karyawan bisa lebih fokus pada tugas yang membutuhkan analisis dan pengambilan keputusan.
Pandangan tersebut disampaikan Leonard Pontoh dari Shipper, perusahaan logistik berbasis teknologi, dalam diskusi HSBC mengenai survei Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Leonard menjelaskan, AI di Shipper dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan dan produktivitas karyawan, bukan menggantikan peran mereka.
“Jadi AI itu malah kalau di kami, AI itu jauh membuat tenaga kerja lebih naik kelas, gitu,” kata Leonard.
Salah satu penerapannya terlihat dalam pengelolaan dokumen penagihan dari klien maupun vendor. Dokumen yang diterima perusahaan memiliki format beragam sehingga membutuhkan waktu untuk diperiksa dan disesuaikan.
Melalui bantuan AI, proses tersebut dapat dilakukan lebih cepat. Teknologi ini membantu menyeragamkan format dokumen sekaligus mempercepat rekonsiliasi dan proses pembayaran.
Dampaknya cukup signifikan. Shipper berhasil memangkas waktu pemrosesan penagihan dari sebelumnya 21 hari menjadi hanya lima hari.
Percepatan tersebut membuat dana perusahaan dapat kembali lebih cepat dan membantu meningkatkan efisiensi pengelolaan modal kerja.
Country Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia, Anne Suhandojo, menyampaikan bahwa pemanfaatan AI di sektor perbankan juga diarahkan untuk mendukung pekerjaan karyawan.
Ia mencontohkan penggunaan AI dalam layanan pelanggan, khususnya untuk membantu menyiapkan jawaban atas pertanyaan yang masuk. Meski teknologi dapat menyusun respons awal, karyawan tetap berperan dalam memastikan layanan diberikan dengan tepat.
“Jadi yang digantikan oleh AI apa? Routine task, misalnya,” ujar Anne.
Menurutnya, AI berpotensi meningkatkan kapasitas karyawan untuk menangani pekerjaan yang lebih kompleks. Kendati demikian, pengawasan manusia tetap diperlukan, terutama ketika teknologi digunakan dalam proses yang berkaitan dengan keputusan penting.
Adopsi AI di Perusahaan Meningkat
Survei HSBC memperlihatkan tingginya ekspektasi pelaku usaha terhadap manfaat AI dalam pengelolaan keuangan perusahaan atau treasury.
Sebanyak 84 persen responden dari kalangan manajer keuangan korporasi di Indonesia memperkirakan AI akan memberikan manfaat besar bagi pengelolaan treasury dalam tiga tahun ke depan. Persentase tersebut melampaui rata-rata Asia Pasifik yang mencapai 72 persen.
Penggunaan teknologi ini juga mulai terlihat dalam operasional perusahaan. Sebanyak 34 persen responden Indonesia mengaku telah memanfaatkan AI agent untuk meningkatkan otomatisasi. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 17 persen.
Namun, penerapan AI belum sepenuhnya berjalan tanpa hambatan. Sebanyak 80 persen responden Indonesia menyebut integrasi teknologi dengan sistem yang sudah digunakan perusahaan sebagai kendala utama.
Selain itu, keterbatasan tenaga ahli dan risiko penggunaan teknologi masing-masing menjadi perhatian 40 persen responden.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa adopsi AI tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi. Perusahaan juga perlu menyiapkan infrastruktur, meningkatkan kompetensi karyawan, serta membangun sistem pengawasan agar penerapannya berjalan efektif.
Dengan pendekatan tersebut, AI berpeluang menjadi alat untuk memperkuat produktivitas dan meningkatkan kualitas pekerjaan, sekaligus membantu perusahaan menghadapi tuntutan operasional yang semakin kompleks.
