Natal hingga Idulfitri Berdekatan, Kalbar Diminta Waspadai Lonjakan Harga
kalbar24.com – Kalimantan Barat perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga kebutuhan pokok menjelang rangkaian empat hari besar keagamaan dan pergantian tahun, yakni Natal 2026, Tahun Baru 2027, Tahun Baru Imlek 2027, serta Idulfitri 2027.
Meningkatnya permintaan bahan pangan dan kebutuhan rumah tangga pada periode tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat menekan daya beli masyarakat, terutama jika kenaikan pengeluaran tidak diimbangi peningkatan pendapatan.
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Andy Kurniawan Bong, meminta pemerintah daerah menyiapkan strategi pengendalian inflasi sejak dini. Menurutnya, stabilitas harga harus dijaga agar masyarakat tetap mampu memenuhi kebutuhan selama rangkaian perayaan tersebut.
“Pengendalian inflasi menjadi prioritas pemerintah daerah karena momentum empat hari besar berurutan biasanya diikuti dengan lonjakan permintaan bahan pokok yang berpotensi menyebabkan kenaikan harga komoditas di pasar. Stabilitas harga penting untuk memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga,” kata Andy di Pontianak, Jumat (5/11/2026).
Peringatan tersebut berkaitan dengan perkembangan inflasi Kalbar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) pada Oktober 2026 mencapai 4,17 persen. Angka itu berada di atas sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen dengan toleransi 1 persen.
Pada periode yang sama, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kalbar naik dari 108,24 pada Oktober 2025 menjadi 112,75 pada Oktober 2026. Sementara inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) tercatat sebesar 3,63 persen.
Andy menyebut kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 2,35 persen. Kenaikan harga cabai rawit dan beras menjadi faktor utama pada kelompok tersebut.
Tekanan inflasi juga berasal dari kelompok transportasi dengan andil 0,73 persen, terutama akibat kenaikan tarif angkutan udara. Adapun kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,20 persen.
Selain komoditas tersebut, harga minyak goreng dan bahan bakar rumah tangga juga perlu mendapat perhatian.
Andy menjelaskan, kenaikan IHK mencerminkan meningkatnya rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga. Apabila kenaikan harga tidak diikuti pertumbuhan pendapatan, kemampuan masyarakat untuk membeli kebutuhan sehari-hari dapat berkurang.
“Jika IHK naik, tetapi pendapatan atau gaji tidak ikut naik, maka kemampuan masyarakat untuk membeli barang dan jasa akan berkurang. Pengeluaran harian terasa lebih mahal meskipun seseorang tidak mengubah gaya hidup atau jumlah barang yang dibeli,” paparnya.
Pemerintah Diminta Perkuat Strategi 4K
Untuk mengantisipasi tekanan harga menjelang empat momentum tersebut, Andy mendorong pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota memperkuat strategi 4K, meliputi kelancaran distribusi, ketersediaan pasokan, kestabilan harga, dan komunikasi efektif.
Pada aspek distribusi, pemerintah perlu memastikan jalur pasokan pangan dan energi antardaerah berjalan lancar. Pengawasan juga diperlukan terhadap komoditas yang didatangkan dari luar Kalbar, termasuk cabai dan berbagai kebutuhan pokok.
“Ketersediaan stok sembako dan energi, termasuk gas LPG 3 kilogram, harus aman supaya harga tidak melonjak dan membebani masyarakat,” tegasnya.
Pemerintah juga diminta menyinkronkan data stok serta memperkuat koordinasi dengan organisasi perangkat daerah, instansi vertikal, dan pemerintah kabupaten/kota sebelum memasuki periode perayaan.
Untuk menjaga keterjangkauan harga, Andy menyarankan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) secara rutin di berbagai wilayah. Komoditas yang dapat disediakan antara lain beras, minyak goreng, telur, dan gula pasir.
Pemantauan stok dan harga di pasar juga perlu ditingkatkan. Kerja sama pasokan antarwilayah menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan, khususnya untuk daerah yang mengalami kekurangan komoditas tertentu.
Masyarakat Perlu Atur Anggaran Hari Raya
Selain langkah pemerintah, kesiapan keuangan rumah tangga juga menjadi perhatian. Andy menyarankan masyarakat memisahkan anggaran kebutuhan sehari-hari dari biaya perayaan Natal, Tahun Baru, Imlek, dan Idulfitri.
Pembuatan anggaran khusus hari raya dinilai dapat membantu keluarga mengendalikan pengeluaran agar tidak melebihi kemampuan keuangan.
Masyarakat juga dapat mencicil pembelian kebutuhan yang tahan disimpan. Langkah ini diharapkan mengurangi risiko membeli seluruh kebutuhan saat permintaan meningkat menjelang hari perayaan.
“Berbelanja lebih awal dapat menjadi salah satu langkah untuk mengantisipasi lonjakan harga mendadak akibat kenaikan permintaan. Hindari membeli seluruh bahan pokok atau kebutuhan kue kering dan dekorasi mendekati hari-H,” jelas Andy.
Masyarakat turut diimbau memanfaatkan pasar murah, operasi pasar, dan program stabilisasi pasokan pangan yang disediakan pemerintah. Jika harga komoditas tertentu meningkat akibat cuaca atau gangguan distribusi, bahan pangan alternatif dengan harga lebih stabil dapat menjadi pilihan.
Biaya transportasi dan perjalanan selama libur akhir tahun juga perlu diperhitungkan. Pemesanan tiket lebih awal maupun penggunaan moda transportasi alternatif dapat membantu mengendalikan pengeluaran.
Andy menekankan pentingnya memprioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan konsumsi sekunder. Dengan perencanaan belanja yang baik, kebutuhan keluarga diharapkan tetap terpenuhi tanpa membebani kondisi keuangan rumah tangga.
