Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Malaysia Tawarkan Pesawat Amfibi dan Helikopter untuk Bantu Indonesia Tangani Karhutla

✍️ Dewi Lestari 🕒 28 Oct 2026 👁️ 0x dibaca
Malaysia menawarkan satu pesawat amfibi, satu helikopter, dan 44 personel untuk membantu Indonesia menangani karhutla. BNPB masih membahas kesiapan pengerahan
Malaysia menawarkan satu pesawat amfibi, satu helikopter, dan 44 personel untuk membantu Indonesia menangani karhutla. BNPB masih membahas kesiapan pengerahan Foto: istimewa

kalbar24.com – Pemerintah Malaysia menawarkan bantuan berupa satu pesawat amfibi CL-415MP, satu helikopter Mi-171, serta 44 personel untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Tawaran tersebut dibahas dalam pertemuan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kristomei Sianturi dengan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Muzafar Shah Mustafa, di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan tawaran bantuan itu masih akan dikaji agar sesuai dengan kebutuhan operasi dan kondisi di lapangan.

Dukungan Malaysia tidak hanya mencakup armada udara dan personel, tetapi juga membuka peluang kerja sama teknologi untuk memperkuat pencegahan serta penanganan karhutla.

Malaysia Siapkan Dua Armada Udara

Pesawat amfibi CL-415MP yang ditawarkan dirancang untuk mendukung pemadaman kebakaran dari udara. Pesawat jenis ini dapat mengambil air dari sumber yang sesuai dan menjatuhkannya ke area kebakaran.

Sementara itu, helikopter Mi-171 ditawarkan untuk membantu operasi penanganan karhutla. Kedua armada tersebut akan didukung 44 personel yang terdiri atas awak pesawat, awak helikopter, dan teknisi.

Kehadiran personel teknis diperlukan untuk mendukung pengoperasian dan pemeliharaan armada selama menjalankan misi.

Namun, pemanfaatan bantuan tersebut masih menunggu evaluasi dan koordinasi teknis antara kedua negara. Kesesuaian armada, kesiapan pengerahan, kebutuhan logistik, serta prosedur keselamatan penerbangan menjadi sejumlah hal yang perlu dipastikan.

BNPB Jajaki Kerja Sama Teknologi dengan Malaysia

Selain bantuan operasional, BNPB dan pemerintah Malaysia membahas peluang kerja sama dalam pengembangan teknologi penanganan karhutla.

Ruang lingkup pembahasan meliputi pemantauan dan deteksi dini, pengumpulan serta analisis data, penilaian wilayah terdampak, strategi pemadaman, penelitian dan inovasi, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapan kedua negara dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan, termasuk meningkatkan kemampuan mendeteksi potensi kebakaran serta menentukan strategi penanganan yang tepat.

BNPB selanjutnya akan membahas aspek teknis bersama Agensi Pengurusan Bencana Negara (NADMA) Malaysia dengan fasilitasi Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Pembahasan mencakup kebutuhan operasional, kesiapan armada dan personel, dukungan logistik, serta pengaturan keselamatan penerbangan.

Asap Menjadi Tantangan Pemadaman dari Udara

Kondisi cuaca dan jarak pandang juga menjadi pertimbangan dalam rencana pemanfaatan bantuan Malaysia.

Asap tebal akibat karhutla dapat mengurangi jarak pandang dan menghambat operasi udara. Karena itu, kedua negara turut membahas alternatif dukungan apabila kondisi tersebut membatasi pelaksanaan pemadaman dari udara.

BNPB menegaskan bahwa bantuan internasional harus disesuaikan dengan kebutuhan penanganan bencana dan ketentuan yang berlaku di Indonesia. Kendali operasi tetap berada di tangan pemerintah Indonesia, sehingga pengerahan armada dan personel asing harus terintegrasi dengan strategi penanganan nasional.

Indonesia Kerahkan Puluhan Ribu Personel

Di tengah pembahasan bantuan internasional, pemerintah Indonesia tetap menjalankan penanganan karhutla melalui pemadaman darat, operasi water bombing menggunakan helikopter, serta operasi modifikasi cuaca.

Berdasarkan laporan Direktorat Pengendalian Operasi BNPB hingga 25 Oktober 2026, sebanyak 71.878 personel satuan tugas pemadaman darat telah dikerahkan secara nasional.

Selain itu, terdapat 63 armada udara yang digunakan untuk mendukung penanganan karhutla. Jumlah tersebut terdiri atas 39 helikopter water bombing dan 24 pesawat untuk patroli serta operasi modifikasi cuaca.

Tawaran Malaysia berpotensi menambah dukungan terhadap upaya tersebut. Meski demikian, bantuan itu belum dapat dihitung sebagai tambahan kekuatan operasional sebelum proses koordinasi dan kepastian pengerahan selesai.

Pengerahan Bantuan Masih Menunggu Kesepakatan

Kerja sama Indonesia dan Malaysia dalam penanganan karhutla menjadi penting karena dampak kebakaran dan kabut asap dapat meluas hingga ke negara tetangga.

Hingga informasi yang disampaikan pada 27–28 Oktober 2026, tawaran berupa satu pesawat amfibi, satu helikopter, dan 44 personel masih dalam tahap pembahasan. Belum ada kepastian mengenai tanggal pengerahan armada maupun personel.

BNPB dan NADMA akan melanjutkan koordinasi untuk memastikan bantuan yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan lapangan, kesiapan logistik, dan standar keselamatan operasi.

Jika disepakati dan dapat dikerahkan, dukungan Malaysia diharapkan membantu memperkuat kapasitas Indonesia dalam menangani karhutla, terutama untuk mendukung operasi udara di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

DL
Dewi LestariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update