Kayong Utara Masuk Empat Daerah dengan Investasi Industri Terbesar di Kalbar
kalbar24.com— Investasi industri di Kalimantan Barat mencapai Rp41,20 triliun dan masih terkonsentrasi di empat kabupaten, yakni Ketapang, Kayong Utara, Mempawah, dan Sanggau.
Dari total tersebut, Kayong Utara menjadi daerah dengan nilai investasi industri terbesar kedua di Kalimantan Barat dengan nilai Rp15,64 triliun melalui Kawasan Industri (KI) Pulau Penebang.
Kepala Disperindag dan ESDM Kalbar Syarif Kamaruzzaman mengatakan total investasi industri di empat daerah tersebut mencapai Rp41,20 triliun.
“Dengan demikian, total investasi industri pada empat daerah tersebut mencapai Rp41,20 triliun,” kata Kepala Disperindag dan ESDM Kalbar Syarif Kamaruzzaman, di Pontianak, Selasa (29/9).
Investasi terbesar berada di Kabupaten Ketapang dengan nilai Rp15,66 triliun melalui Kawasan Industri Ketapang dan WHW yang bergerak pada industri smelter.
Kemudian Kayong Utara menyusul dengan investasi Rp15,64 triliun melalui KI Pulau Penebang. Mempawah tercatat sebesar Rp5,08 triliun melalui Terminal Kijing dan PT BAI, sedangkan Sanggau mencapai Rp4,82 triliun melalui KI Sanggau.
Kamaruzzaman menjelaskan konsentrasi investasi tersebut berjalan beriringan dengan penetapan kawasan peruntukan industri dalam Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2024 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kalimantan Barat.
Kawasan yang ditetapkan antara lain kawasan industri Mempawah, kawasan peruntukan industri Landak, kawasan peruntukan industri Sanggau, kawasan peruntukan industri Pulau Penebang di Kayong Utara, serta kawasan peruntukan industri Ketapang.
Di luar investasi berskala besar tersebut, struktur industri Kalimantan Barat didominasi usaha skala kecil. Profil Perusahaan Industri di Kalimantan Barat Tahun 2025 mencatat terdapat 59.556 unit usaha industri.
Rinciannya terdiri atas 59.178 industri kecil, 85 industri menengah, dan 293 industri besar.
Kota Pontianak menjadi daerah dengan jumlah industri kecil terbanyak, yakni 16.041 unit usaha. Berikutnya Kubu Raya 10.662 unit, Mempawah 5.038 unit, Sambas 4.859 unit, dan Singkawang 4.568 unit.
“Untuk industri besar, Ketapang berada di posisi teratas dengan 71 unit usaha, disusul Sambas 46 unit, Kubu Raya 39 unit, Mempawah 28 unit, dan Sintang 19 unit,” terang Kamaruzzaman.
Menurut Kamaruzzaman, perbedaan tersebut menunjukkan karakter industri Kalimantan Barat yang cukup beragam. Usaha industri kecil tersebar di berbagai kabupaten/kota, sedangkan investasi dengan nilai besar cenderung mengikuti keberadaan kawasan industri dan proyek pengolahan berskala besar.
Sementara itu, perkembangan ekspor Kalimantan Barat dalam jangka panjang menunjukkan peningkatan. Nilai ekspor tercatat sekitar USD1,0 miliar pada 2018 dan mencapai puncak USD2,46 miliar pada 2022.
Setelah mengalami koreksi pada 2023, nilai ekspor kembali menguat pada 2024 hingga 2025 dan menembus USD2 miliar.
Menurut Syarif, kondisi tersebut menunjukkan ekspor Kalimantan Barat memiliki daya tahan, tetapi masih dipengaruhi perubahan harga komoditas dan permintaan pasar internasional.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong produk daerah memiliki nilai tambah lebih tinggi. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan identitas merek, peningkatan kualitas dan desain kemasan, serta pemanfaatan pemasaran digital.
Syarif mengatakan langkah tersebut diperlukan agar produk unggulan Kalimantan Barat tidak berhenti sebagai komoditas daerah, tetapi dapat diposisikan sebagai produk bernilai tambah dan memiliki daya saing di pasar nasional maupun internasional.
Ia menyebut kekayaan sumber daya alam di sektor energi, perkebunan, kehutanan, dan pertambangan menjadi salah satu penopang ekspor Kalimantan Barat. Letak geografis Kalbar yang berada di jalur perdagangan internasional dan berdekatan dengan pasar Asia juga menjadi faktor pendukung.
“Dengan basis usaha industri yang didominasi industri kecil, ditambah investasi besar pada sejumlah kawasan industri, pengembangan nilai tambah menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan antara kegiatan industri dan kinerja perdagangan Kalbar,” pungkas Kamaruzzaman.
