Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Hotspot Karhutla Turun 77,5 Persen, Sumatera Selatan Justru Naik 92 Persen

✍️ Dewi Lestari 🕒 14 Oct 2026 👁️ 6x dibaca
Jumlah titik panas atau hotspot yang menjadi indikasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara nasional turun 77,5 persen dalam 24 jam hingga 13 Oktober 2026
Jumlah titik panas atau hotspot yang menjadi indikasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara nasional turun 77,5 persen dalam 24 jam hingga 13 Oktober 2026 Foto: istimewa

kalbar24.com – Jumlah titik panas atau hotspot yang menjadi indikasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara nasional turun 77,5 persen dalam 24 jam hingga 13 Oktober 2026. Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan karena sejumlah wilayah masih membutuhkan perhatian khusus.

Kementerian Kehutanan mencatat jumlah hotspot nasional turun dari 1.085 titik pada 12 Oktober menjadi 244 titik pada 13 Oktober 2026. Penurunan tersebut menjadi perkembangan positif dalam upaya pengendalian karhutla yang masih berlangsung di sejumlah daerah.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, mengatakan tren penurunan juga terlihat pada enam provinsi prioritas penanganan karhutla.

Namun, tidak semua wilayah menunjukkan perkembangan serupa. Sumatera Selatan justru mencatat kenaikan hotspot sebesar 92 persen ketika periode 1–13 Oktober 2026 dibandingkan dengan 17–30 September 2026.

“Secara total enam provinsi (prioritas), ini ada penurunan 11 persen, dan memang perhatian khusus itu ada di Sumatera Selatan. Kalau kita bandingkan periode 17-30 September dan 1-13 Oktober, hotspot di Sumatera Selatan ada peningkatan 92 persen,” ujar Ristianto dalam konferensi pers, Rabu (14/10/2026).

Ribuan Hotspot Tercatat Sepanjang Oktober

Berdasarkan pemantauan hingga pukul 21.00 WIB pada 13 Oktober 2026, akumulasi hotspot nasional selama periode 1–13 Oktober mencapai 7.519 titik. Puncak harian terjadi pada 8 Oktober dengan 1.029 titik.

Sebagai perbandingan, pada 17–30 September 2026 tercatat 9.080 hotspot, dengan rata-rata 649 titik per hari. Jumlah tertinggi pada periode tersebut mencapai 1.843 titik pada 20 September.

Ristianto mengatakan penurunan dalam dua hari terakhir menunjukkan perkembangan upaya pengendalian kebakaran. Meski begitu, pemerintah tetap melanjutkan pemantauan dan penanganan di wilayah yang masih berpotensi mengalami kebakaran.

“Dan kalau dilihat per 13 Oktober ini, ada terjadi penurunan hotspot yang sangat signifikan dibanding 12 Oktober. Secara nasional turun dari 1.085 (titik) di 12 Oktober, menjadi 244 titik. Secara nasional, 24 jam terakhir turun 77,5 persen,” katanya.

Sebanyak 232 Satwa Liar Diselamatkan

Selain memadamkan kebakaran, pemerintah juga berupaya melindungi satwa liar yang habitatnya terdampak karhutla.

Kementerian Kehutanan bersama relawan dan organisasi masyarakat sipil telah menyelamatkan 232 individu satwa liar di enam provinsi prioritas sepanjang Januari hingga 10 Oktober 2026.

Satwa yang diselamatkan terdiri atas 71 orang utan, 76 bekantan, 24 trenggiling, 15 monyet ekor panjang, sembilan kukang, serta 37 satwa lainnya, termasuk lutung dan kucing kuwuk.

“Kementerian Kehutanan tidak hanya fokus melindungi masyarakat, tetapi juga menyelamatkan satwa liar yang terdampak dari kejadian kebakaran hutan dan lahan,” jelas Ristianto.

Penyelamatan tersebut dilakukan untuk mengurangi dampak kebakaran terhadap satwa sekaligus menjaga keberlangsungan ekosistem hutan.

Penanganan Karhutla Tanjung Puting Diperkuat

Pemerintah juga memberikan perhatian khusus terhadap kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, yang menjadi habitat penting bagi satwa liar, termasuk orang utan.

Kementerian Kehutanan mengerahkan 117 personel ke kawasan tersebut. Selain itu, 10 personel bantuan kendali operasi dari Taman Nasional Karimunjawa dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak turut membantu penanganan.

Dukungan tambahan melibatkan 372 personel dari berbagai unsur, terdiri atas 175 personel Kodam, 112 personel mitra taman nasional, 30 personel Polres Kotawaringin Barat, 30 personel BPBD Kotawaringin Barat, 15 personel Kodim, dan 10 personel Brimob.

Operasi pemadaman melalui udara atau water bombing juga dilakukan dengan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD.

Operasi tersebut telah dilaksanakan pada 9 September, dilanjutkan pada 20–22 September di Resort Teluk Pulai. Dukungan kembali dimohonkan pada 2 Oktober untuk wilayah Kotawaringin Barat dan Seruyan, serta pada 9 Oktober untuk penambahan sasaran di Resort Pesalat dan Tanjung Harapan.

Ristianto mengatakan berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menangani karhutla sepanjang 2026.

“Jadi ini upaya yang sudah kita laksanakan sepanjang kurang lebih 10 bulan terakhir dari Januari hingga Oktober 2026,” katanya.

Pemerintah tetap melanjutkan pemantauan hotspot, pemadaman di lapangan, dan perlindungan satwa liar untuk mengantisipasi kebakaran yang berpotensi meluas.

DL
Dewi LestariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update