Rabu, 28 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Breaking
Beranda › Teknologi
Teknologi

Nelayan Tradisional Kalbar Butuh Akses Teknologi untuk Efektifkan Penangkapan Ikan

✍️ Dewi Lestari 🕒 10 Oct 2026 👁️ 7x dibaca
Nelayan tradisional bersiap melaut untuk mencari ikan di perairan Kalimantan Barat. Keterbatasan modal dan akses teknologi menjadi tantangan dalam meningkatkan hasil tangkapan
Nelayan tradisional bersiap melaut untuk mencari ikan di perairan Kalimantan Barat. Keterbatasan modal dan akses teknologi menjadi tantangan dalam meningkatkan hasil tangkapan Foto: istimewa

kalbar24.com – Pemanfaatan teknologi pendeteksi ikan atau fish finder dinilai dapat membantu nelayan tradisional di Kalimantan Barat (Kalbar) menentukan lokasi penangkapan secara lebih efektif. Namun, keterbatasan modal masih menjadi kendala bagi nelayan kecil untuk mengakses peralatan tersebut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalbar, Natalia Karyawati, mengatakan teknologi dapat mendukung nelayan dalam menemukan titik keberadaan ikan, sehingga aktivitas penangkapan tidak hanya bergantung pada pengalaman membaca kondisi perairan.

“Yang paling efektif dalam penangkapan ikan memang harus tahu di mana titik ikan dengan memanfaatkan teknologi,” katanya di Pontianak, Jumat, 9 Oktober 2026.

Selama ini, nelayan tradisional masih mengandalkan pengetahuan mengenai arah angin, arus, dan kondisi air untuk memperkirakan lokasi ikan. Penggunaan teknologi pendeteksi ikan dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu proses tersebut.

Meski demikian, penerapan teknologi perlu didukung akses permodalan agar nelayan memiliki kesempatan menggunakan peralatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Natalia menjelaskan, kondisi cuaca juga memengaruhi aktivitas penangkapan ikan. Nelayan tradisional tidak selalu dapat melaut secara rutin sepanjang tahun karena bergantung pada keadaan cuaca.

“Sepanjang tahun itu tidak mungkin mereka bisa melakukan, kalau untuk nelayan tradisional, karena terkait dengan cuaca,” ujarnya.

Selain teknologi pendeteksi ikan, pemahaman terhadap karakteristik perairan dan habitat biota laut juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan efektivitas penangkapan.

Bendahara DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kalbar, Zainul Arifin, mengatakan nelayan perlu memahami lingkungan perairan untuk menentukan lokasi yang berpotensi menghasilkan tangkapan ikan maupun udang.

“Seorang nelayan harus paham situasi lingkungan perairan, melihat habitat ikan atau udang itu berada,” katanya, menjelaskan.

Menurut Zainul, pemanfaatan pengetahuan tersebut perlu diiringi dengan pemantauan informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Informasi ini diperlukan untuk mengantisipasi badai dan hujan lebat sebelum nelayan memutuskan untuk melaut.

Ia juga menekankan bahwa penggunaan alat tangkap harus disesuaikan dengan musim, karakteristik perairan, serta ketentuan pemerintah agar aktivitas penangkapan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya ikan.

Di sisi lain, biaya operasional masih menjadi tantangan bagi nelayan tradisional. Zainul menilai pengeluaran selama melaut dapat membebani nelayan ketika tidak sebanding dengan hasil tangkapan.

“Seringkali biaya operasional itu tidak mencukupi. Artinya, kadang-kadang lebih banyak sering ruginya bagi nelayan,” ujar Zainul.

Natalia turut mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem pesisir, termasuk mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Ekosistem tersebut menjadi habitat dan tempat berkembang biak berbagai biota laut yang mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.

“Kalau ekosistem pesisir itu rusak, otomatis ikan juga tidak ada,” ucapnya.

Untuk mendukung peningkatan kapasitas nelayan, HNSI Kalbar mendorong pelaksanaan pertemuan dan pelatihan bersama BMKG serta dinas terkait. Upaya ini diharapkan memperkuat pemahaman nelayan mengenai teknologi, kondisi perairan, dan informasi cuaca.

Dengan dukungan teknologi, pengetahuan, dan permodalan yang memadai, nelayan tradisional di Kalbar diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penangkapan sekaligus mengurangi risiko kerugian saat melaut.

DL
Dewi LestariEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update