Dampak Karhutla di Banjarmasin: Kucing Jalanan Turut Mengalami Sesak Napas dan Mata Berair
BANJARMASIN — Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat umum. Ancaman kesehatan yang serius kini juga mengintai populasi hewan di ruang publik, khususnya kucing-kucing jalanan yang tidak memiliki tempat berlindung memadai. Buruknya kualitas udara dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir memicu munculnya berbagai gejala gangguan pernapasan dan iritasi mata pada satwa tak berpemilik tersebut.
Fenomena memprihatinkan ini disuarakan langsung oleh para aktivis penyelamat hewan lokal yang menemukan banyaknya kucing liar dengan kondisi fisik yang terus menurun di jalanan. Kontak terus-menerus dengan polutan udara tanpa adanya penanganan awal membuat kondisi fauna jalanan tersebut berisiko memburuk dari hari ke hari.
Tanda-Tanda Gangguan Kesehatan pada Kucing Liar
Pegiat dari Komunitas Sahabat Kucing Jalanan (SKJ), Diah Sari, membeberkan temuan langsungnya di lapangan terkait kondisi kucing-kucing liar yang ditemuinya selama kabut asap melanda. Salah satu contohnya adalah seekor kucing jalanan bernama Alex yang memperlihatkan gejala iritasi mata yang cukup jelas.
Diah menegaskan bahwa dampak buruk polusi udara akibat karhutla tidak mengenal batas spesies.
"Manusia saja merasakan sesak nafas, apalagi mereka anjing dan kucing," kata Diah, Rabu (21/10/2026).
Meskipun secara medis belum ada hasil laboratorium atau pemeriksaan klinis resmi yang memetakan tingkat keparahan infeksi pernapasan pada seluruh populasi satwa di sana, indikasi gangguan kesehatan tersebut sudah sangat terlihat dari gejala fisik luar.
"Matanya jadi berair, merah. Itu sebenarnya sudah terindikasi. Cuma karena belum kita bawa ke dokter, kita belum bisa memastikan," kata Diah.
Keluhan berupa mata yang memerah, berair, hingga frekuensi bernapas yang megap-megap mirip dengan respons tubuh manusia yang terpapar polusi udara ekstrem. Paparan materi partikulat beracun yang telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan disinyalir menjadi pemicu utama munculnya deretan gejala tersebut pada kucing jalanan.
Kelompok Kucing yang Paling Rentan Bahaya Asap
Ancaman kualitas udara yang memburuk ini tidak berdampak sama rata pada setiap individu hewan. Ada kategori tertentu yang jauh lebih rentan mengalami komplikasi pernapasan berat atau bahkan kematian jika terus-menerus menghirup partikel kabut asap karhutla.
Menurut Diah, perhatian ekstra sangat dibutuhkan bagi kelompok-kelompok kucing yang memiliki kondisi fisik lemah. Anak kucing yang sistem kekebalan tubuhnya belum terbentuk sempurna, kucing yang sudah berumur tua, serta kucing yang memiliki riwayat penyakit bawaan seperti asma merupakan pihak yang paling terancam. Pada kelompok ini, paparan asap tebal dapat secara cepat memicu serangan sesak napas akut yang membahayakan nyawa.
Sayangnya, berbeda dari hewan peliharaan yang memiliki pemilik untuk langsung membawanya ke klinik veteriner saat sakit, kucing jalanan sepenuhnya bergantung pada kepedulian masyarakat atau relawan yang kebetulan melintas.
Keterbatasan Dana dan Operasional Mandiri Relawan
Upaya penanganan medis bagi kucing jalanan terdampak kabut asap hingga saat ini masih menghadapi kendala klasik, yakni masalah pendanaan. Komunitas pemelihara dan penyelamat hewan liar seperti SKJ harus berjuang ekstra keras karena seluruh biaya perawatan dan tindakan medis dipenuhi secara independen.
Diah menjelaskan bahwa pertolongan medis ke dokter hewan hanya dapat dilakukan pada kasus-kasus yang dinilai sudah berada dalam tingkat darurat.
"Kalau memang dirasa kondisinya cukup parah, kami pasti bawa ke dokter. Untuk operasionalnya, dari dulu memang secara mandiri," tutur Diah.
Kendati sejauh ini belum ditemukan kasus kucing jalanan yang memerlukan perawatan medis darurat berskala intensif akibat kabut asap, situasi ini tetap dianggap menyimpan potensi bahaya laten. Ketiadaan laporan kasus berat bukan berarti kondisi di lapangan dapat dikategorikan aman sepenuhnya.
"Kalau dibilang aman juga enggak. Cuma memang belum sampai fokus ke penanganan khusus. Semoga masalah kabut asap ini bisa segera teratasi," doanya.
Urgensi Penanganan Bencana Karhutla Secara Menyeluruh
Masalah kesehatan yang menimpa hewan liar di Kota Banjarmasin menggarisbawahi luasnya spektrum dampak dari bencana kebakaran hutan dan lahan. Pencemaran udara akibat karhutla tidak lagi sekadar isu kesehatan masyarakat atau gangguan ekonomi, melainkan krisis lingkungan hidup yang merusak ekosistem makhluk hidup secara keseluruhan.
Kucing dan anjing jalanan, sebagai bagian dari ekosistem perkotaan, tidak memiliki sarana untuk melindungi diri mereka sendiri, seperti menggunakan masker atau berdiam diri di dalam ruangan berpendingin udara yang dilengkapi filter polusi. Tanpa adanya penanganan konkret pada sumber bencana kebakaran lahan, ancaman kesehatan terhadap manusia maupun satwa liar di wilayah Kalimantan Selatan dipastikan akan terus berlanjut. Penuntasan bencana karhutla hingga ke akarnya menjadi satu-satunya solusi mutlak agar seluruh makhluk hidup dapat kembali menikmati udara bersih dan sehat.
