BPS Catat Sejumlah Fenomena yang Pengaruhi Indikator Ekonomi Kalbar
kalbar24.com - Sejumlah fenomena sepanjang September 2026 turut memengaruhi perkembangan indikator ekonomi dan sosial di Kalimantan Barat (Kalbar), mulai dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), dampak El Niño dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga aktivitas ekspor produk hilirisasi.
Statistik Ahli Madya BPS Kalimantan Barat, Sri Suyatmi, yang mewakili Kepala BPS Kalbar Much. Saichudin, menyampaikan sejumlah perkembangan tersebut dalam Berita Resmi Statistik (BRS) di Pontianak, Kamis (1/10/2026).
Salah satu fenomena yang menjadi perhatian adalah penyesuaian harga BBM nonsubsidi Pertamina pada September 2026. Harga Pertamax Turbo tercatat naik sekitar tujuh persen menjadi sekitar Rp20 ribu per liter.
Sementara itu, harga Dexlite meningkat sekitar 20 persen menjadi Rp24.200 per liter. Adapun Pertamina Dex mengalami kenaikan sekitar 19 persen menjadi Rp25.750 per liter.
Perubahan harga energi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati dalam perkembangan indikator harga di Kalbar.
Selain harga BBM, kondisi cuaca turut memberikan pengaruh terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Fenomena El Niño yang menyebabkan berkurangnya curah hujan dan kekeringan berpotensi menghambat perkembangan tanaman serta menekan produksi hortikultura.
Kondisi tersebut juga berdampak pada pola tanam petani padi. Sebagian petani memilih menggeser masa tanam dengan mempertimbangkan ketersediaan air dan kondisi cuaca.
Di sektor transportasi, kabut asap akibat karhutla turut mengganggu mobilitas masyarakat. Jarak pandang yang terbatas berdampak pada aktivitas transportasi, termasuk penerbangan dan transportasi sungai.
Dampaknya juga dirasakan sektor pendidikan. Pemerintah daerah sempat menerapkan pembelajaran dari rumah sejak awal September 2026 sebagai langkah mengurangi risiko akibat memburuknya kualitas udara.
Seiring kondisi kabut asap yang mulai menurun dan hujan kembali turun, pembelajaran tatap muka kembali diberlakukan mulai 28 September 2026. Kembalinya aktivitas sekolah tersebut turut menjadi bagian dari perubahan aktivitas masyarakat yang dicatat BPS.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, aktivitas ekspor produk hilirisasi bauksit menunjukkan perkembangan positif. Pada 28 Agustus 2026, Kalimantan Barat kembali mengekspor alumina sebanyak 471 ribu ton melalui Pelabuhan Dwikora dengan nilai sekitar Rp2,2 triliun.
Berbagai fenomena tersebut menjadi bagian dari catatan BPS Kalimantan Barat dalam melihat perkembangan indikator ekonomi dan sosial daerah selama periode pengamatan.
Perubahan harga energi, kondisi iklim, aktivitas masyarakat, hingga kinerja ekspor menunjukkan dinamika ekonomi Kalbar sepanjang September 2026.
