Antrean BBM di Bali Dorong Minat Kendaraan Listrik, Hilirisasi Nikel Jadi Andalan Ekonomi
kalbar24.com - Krisis pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang sempat memicu antrean panjang di Bali mendorong sebagian warga mempertimbangkan kendaraan listrik. Di sisi lain, pengembangan industri baterai berbasis nikel dinilai berpotensi memperkuat kemandirian energi sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.
Antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali pada pekan ketiga Oktober 2026 menjadi pengalaman tersendiri bagi masyarakat. Sebagian pengendara bahkan harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan BBM, sementara beberapa SPBU kehabisan stok atau menghentikan pelayanan.
Rai (55), warga Denpasar, mengungkapkan bahwa keberadaan teman yang menggunakan motor listrik sempat membantu aktivitasnya ketika BBM sulit diperoleh. Pengalaman tersebut turut membuatnya mempertimbangkan untuk beralih dari mobil konvensional ke mobil listrik.
Kondisi serupa dialami Antania (29). Ketertarikannya terhadap motor listrik semakin besar setelah kelangkaan BBM memperburuk kemacetan di kawasan Seminyak dan Kuta. Ia juga mencari informasi mengenai pengalaman penggunaan kendaraan listrik, termasuk dengan bertanya kepada pengemudi ojek daring.
Menurut Antania, motor listrik menarik karena dinilai menawarkan teknologi yang memadai dengan biaya operasional lebih rendah.
Sementara itu, Meliyani (29), pengguna motor listrik, mengaku semakin sering mengandalkan kendaraannya untuk aktivitas sehari-hari. Ia menilai biaya pengisian daya lebih hemat dibandingkan membeli bensin, terutama ketika harga BBM meningkat.
Antrean BBM di Bali memang tidak serta-merta mewakili pandangan seluruh masyarakat. Namun, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kendaraan listrik dapat menjadi alternatif mobilitas ketika pasokan BBM mengalami gangguan.
Kendaraan listrik dan kemandirian energi
Ekonom Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai peralihan dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik berpeluang mendukung kemandirian energi nasional.
Menurutnya, pengembangan ekosistem kendaraan listrik perlu didukung oleh pasokan listrik yang memadai serta pemanfaatan sumber energi domestik, termasuk energi baru dan terbarukan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada BBM impor.
Yayan juga menyoroti posisi Indonesia yang memiliki cadangan nikel besar. Sumber daya tersebut dapat menjadi modal untuk mengembangkan industri baterai kendaraan listrik sekaligus memperkuat rantai pasok di dalam negeri.
Kebijakan hilirisasi, termasuk penghentian ekspor bijih nikel dan pembangunan fasilitas pengolahan, menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut di Indonesia.
Pengembangan industri baterai juga ditandai dengan peresmian ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara, oleh Presiden Prabowo Subianto pada Oktober 2026, sebagaimana diberitakan dalam bahan sumber.
Pemerintah turut mendorong pasar kendaraan listrik melalui rencana pemberian insentif bagi satu juta motor listrik produksi dalam negeri. Kebijakan ini diarahkan untuk membantu menekan biaya pembelian kendaraan, mengurangi konsumsi bahan bakar impor, serta memperbesar industri kendaraan listrik nasional.
Rantai industri yang dibangun tidak hanya mencakup baterai, tetapi juga komponen, perangkat lunak, hingga layanan purnajual. Dengan demikian, manfaat pengembangan kendaraan listrik berpotensi meluas ke berbagai sektor usaha.
Hilirisasi nikel dorong investasi dan lapangan kerja
Hilirisasi nikel juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan nilai ekspor. Dalam bahan sumber disebutkan, nilai ekspor nikel Indonesia meningkat dari sekitar 3,3 miliar dolar AS pada 2017–2018 menjadi lebih dari 40 miliar dolar AS pada 2025.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menargetkan nilai ekspor nikel Indonesia mencapai sedikitnya 45 miliar dolar AS pada 2026.
Selain meningkatkan nilai ekspor, pembangunan industri pengolahan turut mendorong investasi dan penyerapan tenaga kerja. Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang dikutip dalam bahan sumber mencatat realisasi investasi nasional pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dan menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja langsung.
Sektor hilirisasi menyumbang hampir 30 persen dari total realisasi investasi tersebut. Lebih dari 75 persen investasi hilirisasi juga tercatat terealisasi di luar Pulau Jawa.
Maluku Utara menjadi salah satu daerah yang mengalami perkembangan investasi seiring dengan pertumbuhan industri pengolahan nikel dan ekosistem kendaraan listrik.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menyebut realisasi investasi di Maluku Utara mencapai Rp423,7 triliun sejak 2021 hingga Juni 2026. Pada semester I 2026, investasi di provinsi tersebut tercatat sebesar Rp65,4 triliun, dengan Kabupaten Halmahera Tengah menyumbang Rp55,7 triliun.
Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada triwulan II 2026 juga mencapai 15,35 persen, tertinggi di antara 38 provinsi berdasarkan data yang disampaikan dalam bahan sumber.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa industri pengolahan berbasis sumber daya alam berpotensi membentuk pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa.
Tantangan membangun ekosistem kendaraan listrik
Meski memiliki peluang besar, pengembangan kendaraan listrik tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan nikel dan produksi baterai. Ekosistem yang mendukung penggunaan kendaraan juga perlu diperkuat agar masyarakat memiliki alasan praktis dan ekonomis untuk beralih.
Ketersediaan fasilitas pengisian daya, keandalan pasokan listrik, harga kendaraan yang terjangkau, serta layanan purnajual menjadi bagian penting dalam mendorong adopsi kendaraan listrik.
Di sisi lain, penggunaan kendaraan listrik tidak otomatis menghilangkan seluruh ketergantungan terhadap energi fosil. Manfaatnya bagi kemandirian energi akan semakin besar apabila listrik yang digunakan turut didukung oleh sumber energi domestik yang beragam dan semakin bersih.
Pengalaman antrean BBM di Bali menjadi pengingat bahwa ketahanan energi berkaitan langsung dengan kegiatan sehari-hari dan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, pengembangan kendaraan listrik dan hilirisasi nikel perlu berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur, penguatan industri nasional, serta pengelolaan sumber energi yang berkelanjutan.
