Ancaman Karhutla di Palangka Raya: Asap Tebal Masuk Ruang Kerja Pemko, Pegawai Khawatir
PALANGKA RAYA — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kini semakin mengkhawatirkan dan merangsek langsung ke pusat pemerintahan daerah. Kobaran api yang membakar lahan gambut di sekitar kawasan perkantoran tidak hanya mengepulkan asap di area terbuka, tetapi jangkauan asap pekatnya kini telah menerobos masuk ke dalam ruangan-ruangan kerja di Kompleks Perkantoran Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya. Kondisi ini membuat paparan polusi udara akibat kebakaran lahan kian membahayakan kesehatan para aparatur sipil negara (ASN) maupun masyarakat yang sedang mengurus keperluan administrasi.
Peristiwa masuknya kabut asap tebal ke dalam gedung pemerintahan ini terjadi seiring membesarnya titik api di area semak belukar yang berdekatan dengan kompleks perkantoran Pemko Palangka Raya, tepatnya di Jalan Soekarno. Angin kencang yang berembus disertai kondisi cuaca terik membuat material gambut yang kering sangat mudah terbakar dan meluas dalam waktu singkat. Akibatnya, jarak pandang di sekitar lokasi kejadian merosot tajam, sementara bau sangit abu kebakaran menyengat hingga ke dalam gedung.
Di dalam area gedung, sejumlah pegawai Pemko Palangka Raya terpaksa menjalankan tugas harian mereka di tengah kepungan kabut tipis hingga sedang yang mengendap di dalam ruangan. Pentingnya pelayanan publik membuat sebagian besar pegawai memilih bertahan, meskipun rasa perih di mata dan gangguan pernapasan mulai dirasakan oleh banyak pihak. Beberapa ruangan kerja tampak diselimuti remang asap, sehingga ventilasi dan pintu ruangan harus ditutup rapat demi meminimalkan masuknya polusi abu.
Kondisi memprihatinkan tersebut dikonfirmasi langsung oleh salah satu pegawai yang bertugas di kompleks perkantoran Pemko Palangka Raya. Ia menuturkan bagaimana aroma asap begitu menyengat hingga menembus masuk ke dalam area kerja mereka.
"Asapnya sangat pekat dan sudah masuk ke dalam ruangan kerja. Bau sangitnya bikin perih mata dan dada sesak. Kami terpaksa memakai masker saat bekerja di dalam ruangan," ujar salah seorang pegawai Pemko Palangka Raya di lokasi kejadian.
Kehadiran asap pekat ini memicu kecemasan mendalam di kalangan para pegawai dan warga sekitar. Pasalnya, selain mengganggu konsentrasi dan kenyamanan saat bekerja, paparan asap karhutla secara terus-menerus mengancam kesehatan saluran pernapasan. Penggunaan masker medis maupun masker kain kini menjadi pelindung wajib bagi siapa saja yang terpaksa beraktivitas di dalam lingkungan kantor Pemko Palangka Raya guna menghindari risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Merespons kobaran api yang terus mendekati fasilitas negara tersebut, tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat), TNI, Polri, serta para relawan Pemadam Kebakaran Swakarsa (Redkar) langsung dikerahkan ke lokasi. Petugas berjibaku melokalisasi pergerakan api agar tidak makin meluas dan membakar struktur bangunan gedung pemerintahan.
Proses pemadaman karhutla di lahan gambut Kalimantan Tengah ini tidak berjalan mudah. Tim Satgas Karhutla melontarkan selang air dan menyemprotkan air secara masif ke titik-titik pusat api serta area semak belukar yang berpotensi menjadi jalur perambatan. Kendala utama yang dihadapi petugas lapangan adalah struktur tanah gambut yang dalam, di mana bara api sering kali tersimpan di bawah permukaan tanah meskipun bagian atasnya sudah tampak padam.
Selain karakteristik tanah gambut yang sulit ditaklukkan, keterbatasan sumber air di sekitar lokasi kejadian juga sempat menghambat upaya respons cepat dari tim pemadam. Petugas terpaksa mengandalkan pasokan air dari armada mobil tangki dan mencari kolam atau parit terdekat yang airnya belum mengering akibat musim kemarau panjang.
Guna memastikan situasi tetap terkendali dan mengantisipasi munculnya titik api baru, pengawasan ketat terus dilakukan oleh aparat berwenang di sekitar area terdampak. Penyisiran serta pembasahan (cooling down) di atas lahan gambut terus digencarkan untuk memastikan tidak ada lagi sisa-sisa bara api yang dapat kembali memicu kepulan asap pekat.
Bencana karhutla yang melanda wilayah Kota Palangka Raya dalam beberapa pekan terakhir ini memang terus menunjukkan peningkatan frekuensi. Fenomena kemarau yang dibarengi dengan cuaca ekstrem meningkatkan kerentanan lahan gambut terhadap pemicu sekecil apa pun, baik akibat faktor alam maupun dugaan kelalaian manusia dalam aktivitas pembukaan lahan.
Dampak buruk yang ditimbulkan oleh Karhutla Palangka Raya tidak hanya menyasar pada lumpuhnya sebagian kenyamanan di lingkungan kerja perkantoran pemerintah, tetapi juga menurunkan derajat kualitas udara kota secara keseluruhan. Masyarakat luas diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran sampah maupun pembukaan lahan secara sembarangan, mengingat dampak buruknya dapat melumpuhkan sektor kesehatan, pendidikan, hingga perekonomian daerah secara luas.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan penanggulangan karhutla masih terus disiagakan di berbagai titik rawan di sekitar Palangka Raya. Langkah kesiapsiagaan penuh dijalankan demi mencegah masuknya kembali ancaman kabut asap pekat ke fasilitas umum maupun pemukiman warga setempat.
